Google

Pertemuan Ex-Gent

May 11, 2008

Hari ini ada pertemuan ex-Gent di rumahnya tante Diah. Acaranya berlangsung dari jam 11-16 WIB. Saya berangkat jam 12 lewat dikit coz nunggu dhuhur dulu. Rumahnya tante Diah di Cilandak, jadi masih bisa ngejar caranya. Mampap dah pake baju semi-formal, saya sendiri pake baju santai yang sempat disuruh ganti ma mampap, katanya kurang bagus, ughhh ribet ya. Tapi akhirnya mampap setuju juga saya pake tu baju emoticon.

Pencarian rumah tante Diah tidak semudah yang dibayangkan. Sempat mblosok2 salah masuk, akhirnya nemu juga. Rumahnya terletak di pojok. Pagarnya terbuat dari bambu or kayu (maaf ga gt merhatiin) yang menjulang tinggi melebihi ketinggian manusia. Sampai di depan gerbang, binun nyari belnya kok ga ada. Tidak lama berselang, satpam rumah pun datang menghampiri dan mempersilahkan kami masuk. Dari gerbang menuju ke rumah utama harus sedikit berjalan kaki (mobil tadi masuknya lewat jalan sempit gt jadi ga bisa masuk). Setelah nyampe di bangunan rumah, binun pintu utamanya yang mana, hahaha payah ya kita! Rumahnya bergaya Eropa gt, maksudnya bukan gaya Eropa yang bercorak2 zaman Romawi, tapi maksud saya bergaya seperti rumah2 di Eropa. Berhubung saya orang Indonesia, dimaklumi ya kalo rada2 binun menentukan pintu utamanya emoticon. Daripada linglung ga jelas, akhirnya nanya pak satpam juga. Di pintu utamanya juga ga nemuin bel, jadi deh ngetok pintu. Sembari ngetok pintu, mama ngelongok2 di jendela (utg ga diliat yang punya emoticon).

Tante Diah keluar membukakan pintu untuk kami. Gaya rambutnya masih tetep sama seperti dulu dan wajahnya pun masih semuda dulu. Tante Diah berpakaian cukup santai, hemd dengan celana pendek. Kami langsung menuju ruang makan yang seruang dengan dapur. Ruang makan gaya Eropa banget, asyik penataannya. Di sana sudah datang Om Arif beserta keluarga dan beberapa ex-Gent lain. Ada Celine, Audrey, Helene, dan suami tante Diah juga tentunya. Dateng langsung deh caplok sana sini, eh tapi jgn salah ya, saya ga gragas loh, sebelumnya di rumah udah makan dulu biar ga rakus emoticon.

Menu pertama yang saya ambil adalah kue2. Kemudian minum lemon tea dulu baru melahap lasagna. Masih banyak menu lainnya seperti spaghetti, udang, daging, ayam, n cake coklat, tapi perut dah terasa penuh jadi stop is the best. Makan sembari ngobrol en ngrumpi dengan orang2 yang dari segi usia di atas saya, tapi cueks lah. Dari cerita2 zaman dulu ketika di Gent, hmm.. cerita dari saya tentunya menarik dunk. 

Dari dapur bisa terlihat kolam renang dan halaman belakang yang cukup asri. Kalo bawa baju renang, dah nyemplung kali saya emoticon. Saya suka sekali dengan penataan rumahnya, simple dan homy banget. Sampe pulangnya saya sms Cacay bilang pgn rumah yang besar en homy. Rumah saya di Bogor tu penuh dengan perabotan, jadi sumpek. 

Jam 15 lewat kami pun pamit pulang. Setelah cipika cipiki, kita foto2 dulu. Fotonya cuma 2 kali, tapi mudah2an hasilnya bagus. Nanti kalo sudah dikirim sama Om Arif, saya post deh di FS en pesbuk. Jadi pengen ih punya rumah yang homy, pasti bikin saya makin betah di rumah. Pasti juga bikin kucing2 saya yang ganteng en cantik jadi lebih hepi. Pasti juga bikin suami dan anak2 saya kelak (baca: kelak saat saya punya suami en anak2) jadi betah, amien.. Cacay cepet beliiiiiiiiiiiiiin..!!! Btw, kayaknya nikah dulu ya Beb baru minta beliin?? emoticon

Sang Saka Merah Putih

May 5, 2008

Indonesia mempunyai bendera yang berwarna merah putih. Bendera kebanggaan negara kedaulatan ini disebut sebagai Sang Saka Merah Putih. Dari pelajaran di sekolah, berulang kali dijelaskan jika merah berarti berani dan putih berarti suci. Tahukah darimana asal muasal bendera merah putih itu? Bendera merah putih merupakan bendera Majapahit. Majapahit mengibarkan bendera ini pada peperangan. Dalam Kitab Sutasoma, dijelaskan bahwa merah merupakan simbolisasi dari darah yang berarti berjuang sampai titik darah penghabisan demi mempertahankan bumi pertiwi, sedangkan putih berarti suci. Dengan bendera yang sama dengan yang diusung Majapahit, akankah Indonesia menjadi negara termahsyur seperti kerajaan itu? Ataukah akan tercerai-berai seperti keruntuhan Majapahit?

23 Tahun Silam

May 4, 2008

Dua puluh tiga tahun silam lahir seorang bayi perempuan mungil dengan berat 2,6 kg. Bayi perempuan itu lahir di Rumah Bersalin Bahagia Semarang dari seorang ibu yang pekerja keras. Ayah si bayi saat itu sedang berada di Belgia. Sang ibu tidak mengeluh meski tidak ditemani suaminya dalam persalinan. Bayi mungil itu pun menangis menatap dunia, menghirup udara kota Semarang untuk pertama kalinya. Sang ayah telah menyiapkan nama bagi si mungil sejak Desember 1984, kala itu si ayah sedang berlibur ke London. Entah karena terpesona dengan keindahan alam London atau karena apa, nama si bayi terinspirasi saat ayah berada di kota itu.

Bayi mungil lahir 4 Mei 1985 jam 8.15 pagi. Rambutnya tidaklah lebat, kulitnya tidaklah gelap, matanya tidaklah belok, dan tangisannya tidaklah pelan (baca: cengeng). Si bayi pun mulai menyentuh kulit bunda, sangat lembut, hangat, dan menenangkan. Bunda tidak pernah lelah menenangkan si mungil meski cengengnya keterlaluan. Tidak lama menghirup udara kota Semarang, si mungil di bawa ke Jepara, kota tempat bunda bekerja.

Si mungil mulai menghirup aroma pasir laut, mendengar desiran ombak, dan suara deru kendaraan. Si mungil pun akhirnya berjumpa dengan sang kakak yang sangat sayang padanya. Si kakak bahkan tidak mengizinkan orang lain untuk mendekati si mungil (mungkin karena saking imutnya jadi takut diculik ma yang nengok emoticon).

Lambat laun si mungil menjadi bayi yang sehat dan montok. Waktu perjumpaan dengan ayahpun telah tiba. Ayah telah pulang, senangnya hati si mungil. Ayah pulang dengan membawa boneka putih berbaju merah kotak2 pemberian Professor ayah. Boneka itu umurnya pastilah lebih tua dari si mungil. Sampai sekarang, boneka itu masih disimpan di atas lemari si mungil. Ayah berucap, jika bayinya laki2 diberi nama Galih Fajar Mahardika, dan jika bayinya perempuan diberi nama Nilam Amalia Pusparani, dan itulah saya. Nilam berarti sapphire, Amalia ditujukan agar saya sering beramal, Pusparani diambil dari Puspa = bunga, Rani = ratu. Sampai sekarang nama Galih Fajar Mahardika tidak pernah dipakai karena setelah saya tidak pernah ada bayi lagi yang lahir dari rahim bunda. Terima kasih buat Ayah, Bunda, Aa, dan semua teman2 yang telah menemani perjalanan hidup saya selama 23 tahun ini. I love u all emoticon

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here